alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Catat! Kolom Komentar Medsos Tak Bisa Dijadikan Jaminan Kepercayaan

Muh Iqbal Marsyaf
Catat! Kolom Komentar Medsos Tak Bisa Dijadikan Jaminan Kepercayaan
Instagram menjadi senjata ampuh para pebisnis online untuk memasarkan produknya. Kepercayaan menjadi modal bisnis online berjalan lancar. Foto/Ist

JAKARTA - Media sosial (medsos) menjadi platform yang cocok bagi pemilik usaha untuk mengenalkan produknya.  Dengan ragam komentar positif di kolom komentar, warganet pun percaya usaha yang dijalankan secara online benar adanya.

Namun hal ini seharusnya tak membuat Anda lengah. Karena pada akhirnya ketidak hati-hatian akan membuat kita merugi. Hal ini terjadi pada pelanggan Easy To Holiday, Travel atau Trip Organizer milik Sunawar Eko Priadi. Pemilik travel diduga melakukan penipuan.

Awalnya, travel yang dijalankan Adi-demikian Sunawar Eko Priadi biasa disapa- berjalan mulus. Dia mampu membawa para peserta travelnya ke Turki, India, Jepang, hingga Kashmir. Layanan yang menyenangkan kepada para peserta travel-nya membuahkan komentar positif pada akun Instagram resminya, @easy.toholiday, yang notabene menjadi kanalnya untuk mem-branding sekaligus memasarkan travel Easy To Holiday.



Tak heran, banyak traveler yang kepincut untuk mendaftar menjadi peserta travel Easy To Holiday. Mulai dari peserta rombongan atau private trip, hingga peserta individual atau open trip. Down payment (DP) mulai dari Rp4 juta hingga puluhan juta rupiah pun mereka percayakan dibayar di muka, untuk kemudian ditransfer ke rekening Adi.

Sayangnya, akhir Oktober, gelagat kurang baik sudah mulai ditunjukkan pemilik. Peserta rombongan yang akan berangkat ke Jepang terpaksa jalan sendiri, tanpa ditemani Adi yang tiba-tiba menghilang dan sulit dihubungi. Meski tetap berangkat dengan modal tiket airlines yang sudah diberikan Adi, sayangnya dikisahkan Febrina, salah seorang peserta rombongan ke Jepang, mereka tetap harus bayar apartemen. Sebab cek yang dikasih untuk bayar apartemen bodong.

Pengakuan Adi kepada peserta rombongan ke Jepang, dia tengah sakit. Untuk membuktikan ucapannya, ia pun berhasil membawa rombongan berikutnya Ke Kashmir pada akhir Oktober 2019. Lagi-lagi dengan layanan yang ramah dan menyenangkan.

Sayangnya, Kashmir menjadi perjalanan Adi yang terakhir. Berikutnya, dia sudah tidak bisa dihubungi. "Sedihnya, di saat mulai bermasalah, dia masih menelepon saya untuk melunasi perjalanan saya ke Turki yang akan dilakukan pada 28 November 2019. Alasannya, dia sedang mengurus penginapan untuk di Turki. Total saya sudah bayar Rp16,5 juta," kata Dwi, yang mengaku ikut mendaftar ke Turki karena temannya sudah pernah ke India bersama Easy To Holiday.

Sejak awal November 2019 pun, kolom komentar akun @easy.toholiday pun dipenuhi hujatan para peserta travel. "Akun penipu, 300 jt gak dibalikin uang customer. Hati-hati guys," tulis akun @anno1212.

Hal senada dituliskan akun @vannishaagatha, "Mas, harusnya, tgl 20 ini aku seneng2 di kasmir tp mas adi bikin aku sedih. Kepercayaankun ke mas adi udah mas adi sia2in. Mas adi bakal susah sendiri kalo hidupnya kayak gini. Kepercayaan itu mahal harganya."

Sampai saat ini, para peserta travel Easy To Holiday yang diketahui tertipu dan bergabung dengan grup Whats App "Tuntut Pengembalian DP" sudah mencapai lebih dari 30 orang. Nilai kerugian pun bervariasi, mulai dari jutaan hingga Rp90 juta. Total kerugian seluruh peserta yang tergabung dalam grup tersebut mencapai Rp444.950.000.

Sampai saat ini, para peserta sudah berulang kali menghubungi Adi ke dua nomor telepon, menghubunginya lewat akun media sosial dan email, hingga mencari tahu alamat rumah Adi. Mereka juga tengah berencana melaporkan Adi ke pihak kepolisian.

Sementara itu, sampai berita ini diturunkan, SINDOnews yang mencoba mengontak Adi masih tidak bisa dihubungi.



(vhs)

loading...